Showing posts with label ahok. Show all posts
Showing posts with label ahok. Show all posts

Friday, March 17, 2017

WOW !!! Cerita Kiai NU ini soal ISLAM di Jawa TERNYATA Masuk dari Kampung Ahok



Liputan6.com, Jakarta Panasnya suhu politik berdampak kepada sejumlah ulama di Tanah Air. Salah satunya yang dialami Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah KH Maimun Zubair.

Mustasyar PBNU 89 tahun yang akrab disapa Mbah Maimun ini mengaku kerap dianggap sebagai pendukung Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

"Saya itu sering dianggep pro-Ahok, terus terang saja," ujar Mbah Maimun saat berpidato di acara Silaturahim Nasional Alim Ulama, Ponpes Al Anwar, sarang, Rembang, Jawa Tengah, Kamis (16/3/2017).

Sontak pernyataan sang Kiai ini mengundang tawa para ulama dan santri yang hadir. Alih-alih mengelak atau membenarkan tudingan itu, Mbah Maimun justru bercerita tentang sejarah masuknya Islam ke kampungnya.

"Satu-satunya di Jawa, Islam masuk dari kelompoknya Ahok itu di Sarang. Waktu itu masih zaman Majapahit, waktu negeri China dipimpin Kublai Khan," ucap Mbah Maimun.

Dia pun bercerita, saat itu tentara Kublai Khan dari Mongol melakukan ekspansi ke tanah Jawa dan beberapa wilayah Nusantara. Beberapa tentara Mongol yang beragama Islam berada di Bangka.

"Tentara Kublai Khan yang ada Islamnya yakni kelompok Belitung dan orang-orang China yang lain ada di Bangka. Jadi Bangka Belitung adalah tempat China membawa Islam ke Indonesia," kata Mbah Maimun.

Kiai Maimun menuturkan, kakek buyutnya pertama kali belajar agama Islam dari tanah Belitung, yang merupakan kampung Ahok. Bahkan dari wasiyah leluhurnya, Mbah Mun, sapaan akrab Kiai Maimun, membangun gapura dengan tulisan Wali Bangka Belitung di daerahnya.

Hal itu dilakukan sebagai salah satu bentuk edukasi kepada santrinya agar mengetahui sejarah.

"Jadi Sarang ini Islamnya dari Belitung, bukan dari Demak," seloroh Mbah Maimun disambut tawa hadirin.

Namun hingga akhir pidatonya, Mbah Maimun tak pernah membenarkan atau membantah tudingan mendukung Ahok.

Bagi warga Nahdliyin, itu merupakan gaya kiai NU ketika berpidato di hadapan ulama dan santrinya. Kerap dibumbui guyonan, sentilan, atau humor-humor ringan yang tentu tak mengganggu esensi materi yang disampaikan.

"Kalau NU tidak ada kaitannya dengan politik praktis. Tapi politik kebangsaan secara umum, maka NU sebagai penjaga, pengawal masyarakat yang harus komitmen dengan empat pilar," ujar Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj saat ditemui di lokasi.


sumbr : liputan6

Sekali Lagi Ahok Terbukti Anti Korupsi !!!

Sekali Lagi Ahok Terbukti Anti Korupsi, Tapi Anies dan Sandi Tersandung Laporan Korupsi dan Penggelapan Tanah Bapak Angkat Ahok sudah membuktikan bahwa ia orang yang bersih dari korupsi.





Ia bahkan menjadi palang pintu bagi para koruptor, baik dari DPRD yang berkantor di Kebon Sirih dan para pejabat di seluruh SKPD Jakarta yang punya niat menggasak APBD. Ahok juga adalah gubernur yang tidak takut siapa-siapa dalam membela langkahnya menjaga APBD. Ia hampir saja dilengserkan oleh DPRD karena sikapnya yang tegas dalam penyusunan APBD yang bebas dari kepentingan phak-pihak yang tidak berhak.Akhirnya uang sebesar Rp 12 Triliun bisa diselamatan.


Ahok yang tidak mau bermanis-manis dengan para koruptor lalu dituduh melakukan korupsi besar-besaran dalam pembelian tanah RSSW. Ia juga dituduh melakukan korupsi pada proyek reklamasi pantai utara Jakarta. Tapi KPK membela Ahok, tidak ada bukti bahwa ia telah melakukan korupsi. Lalu yang dijebloskan KPK menjadi penghuni rutan justru adalah anggota DPRD dari partai yang paling getol untuk menjadikan Ahok tersangka korupsi.



Muhammad Sanusi dari Partai Gerinda, terkena OTT oleh KPK, dan langsung dipasangkan jaket oranye. Sekarang Indonesia diramaikan oleh korupsi berjamaah e-KTP. Pelaku utamanya adalah anggota DPR Komisi II yang menjadi mitra Kemendagri. Ahok pada waktu itu adalah anggota DPR Komisi II.


Semua anggota komisi II termasuk dalam daftar penerima dana hasil korupsi e-KTP. Satu-satunya nama yang tidak tercantum sebagai penerima dana korupsi e-KTP itu hanya nama Ahok. Jadi sekali lagi, Ahok membuktikan bahwa Ia memang sudah sejak lama anti korupsi. Bahkan ada beberapa cerita terkait dengan sikap dan pandangan Ahok tentang e.KTP.


Pertama ia tidak setuju dengan proyek e-KTP itu karena biayanya sangat besar, hampir 6 triliun rupiah. Kedua, ia justru memberi saran masukan kepada Ketua Fraksinya di DPR untuk mengganti e-KPT dengan KTP yang juga berfungsi sebagai kartu ATM yang diterbitkan oleh BPD-BPD daerah. Dengan KTP semacam itu, maka biayanya akan jauh lebih murah dan diperoleh manfaat lebih, seluruh rakyat Indonesia akan menjadi nasabah bank. Tapi saran masukan Ahok itu ditolak, dan akhirnya Proyek e-KTP tetap dilaksanakan,


Ternyata, proyek itu menjadi main-mainan perusahaan pemenang tender yang sebenarnya sudah diatur untuk menjadi pemenang. Proyek e-KTP itu dikontrakkan lagi kepada sebuah perusahaan di Amerika. Akibatnya, data penduduk Indonesia tersimpan pada server perusahaan Amerika itu.


Lalu terjadi keterlambatan. Bahkan sekarang masih ada 7 juta lagi penduduk yang belum mendapatkan e-KTP yang oleh KPU dijadikan syarat untuk mendapatkan hak sebagai pemilih dalam Pilkada. Rupanya formulirnya habis dan harus dipesan dulu ke perusahaan pencetaknya di Amerika. Jadi proyek e-KTP betul-betul menjadi brantakan, dan akan menjadi proyek setengah gagal.


Sedangkan pada waktu yang sama, puluhan pejabat tinggi negara dan politikus memanfaatkan dana proyek e-KTP yang sebelumnya sudah di mark-up, untuk memperkaya diri secara berjamaah. Lalu bagaimana kabar cagub dan cawagub Jakarta lainnya, yakni Anies dan Sandi? Bersihkah mereka? Yang jelas menurut pemberitaan dan sebuah artikel di Kompasiana, Anies dilaporkan ke KPK karena menghamburkan dana proyek pada sebuah pameran internasional di Hamburg -Jerman.


Dana Proyek itu Pameran itu sedemikian besarnya mencapai Rp 140 Milyar, hampir mendekati biaya kunjungan dan plesiran Raja Salman dan 1500 pengiringnya ke Indonesia, yang hanya menghabiskan Rp 160 Milyar. Memang ada pembelaan dari Gunawan Muhammad (GM) yang waktu itu menjadi ketua pameran Indonesia. 


Tapi pertanyaa pokok belum terjawab, kenapa biayanya sedemikian besarnya? Sampai saat ini Anies masih diam dan tidak memberikan jawaban. Selain itu ada pula berita yang menyebutkan Anies membiarkan dana sebesar Rp 23 Triliun lolos untuk biaya guru bersertifikat.


Ternyata berdasarkan hasil temuan Menkeu, dana sebesarnya itu belum diperlukan karena orang yang akan menerimanya belum ada. Yang menjadi pertanyaan kenapa Anies Baswedan selaku Mendikbud pada waktu itu membiarkan dana itu lolos, menjadi anggaran di Kementerian yang ia pimpin? Apakah ada niat terselebung di balik lolosnya dana berlebih tersebut? Yang lebih parah lagi adalah Sandiaga Uno. Ia barusan dilaporkan ke Polisi oleh bapak angkatnya, Edward Suryajaya. Ia tega menggelapkan tanah miliki bapak angkatnya, dan tidak ada kemauan baik untuk menyelesaikannya.



Pada hal bapak angkatnya itu telah membiayai kuliahnya di Amerika, menjadikannya petinggi di perusahaannya dan bahkan ikut membantu pesta perkawinannya. Jadi pada pilkada Jakarta putaran kedua nanti, rakyat Jakarta jangan sampai tertipu oleh mulut manis cagub atau cawagub yang akan membela kepentingan mereka. Itu biasanya hanya janji-janji kosong, yang segera dilupakan setelah mereka terpilih menjadi gubernur atau wakil gubernur.


Yang perlu dipertimbangkan adalah track record dan kinerja sang Cagub dan Cawagub selama ini. Tapi yang lebih penting lagi, mereka dalam waktu yang panjang terbukti anti korupsi dan kekayaannya bersih dari yang penghasilan dari kejahatan korupsi atau kecurangan.


Thursday, March 16, 2017

Pandji, Ingatkah Kau Pada ‘Si Buta Dari Goa Hantu’?



Dulu terus terang saya termasuk salah satu fans Pandji Pragiwaksono, artis yang banyak berkiprah di dunia stand up comedy. Walaupun dari segi wajah termasuk pas-pasan (maaf ya mas Pandji), tapi menurut saya Pandji itu cerdas, lucu dan cenderung humanis. Nampak dari berbagai guyonan-nya yang segar tapi juga kadang cukup berani menyentil berbagai pihak, jadi lumayan ‘berbobot’ lah seorang Pandji ini, begitulah pemikiran saya dulu.

Tapi semenjak memasuki Pilkada DKI Jakarta 2017 ini, mau tidak mau, ada sedikit ‘pergeseran’ dalam penilaian pribadi saya terhadap Pandji. Ya tentu sebagai timses Anies Sandi, pasti akan selalu membela paslon-nya. Tapi sebagai seorang public figure yang terkenal aktif di media sosial, Pandji seringkali menuliskan buah pikirannya di berbagai media. Yang paling sering Pandji pakai adalah Twitter (@pandji), dan website miliknya (http://pandji.com). Sehingga menjadi lucu jika terjadi perubahan sikap pendirian yang signifikan antara dulu dan sekarang. Tidak percaya? Mari kita lihat sendiri buktinya. Kali ini saya hanya akan membahas tentang satu subjek yang menurut saya paling prinsip. Subjek lainnya mungkin nanti saya sambung di artikel baru, supaya tidak kepanjangan, hehehe…

Pandji dan FPI


Membaca buah pikiran Pandji di website pribadinya pandji.com tertanggal 1 Maret 2012, dimana Pandji mewawancarai Habib Selon, ketua DPD FPI Jakarta. Dari situ diketahui bahwa FPI ‘dibentuk’ oleh para Jendral. Tujuan mendirikan FPI karena mereka butuh sesuatu utk menekan lapisan masyarakat yg “melawan”.

Karena aparat vs rakyat = kejahatan HAM
Sementara ormas vs rakyat = kerusuhan biasa
Dan Indonesia sudah diawasi dunia urusan kejahatan HAM.

Berikut kutipan isi buah pikiran Pandji hasil wawancaranya dengan Habib Selon:


Habib Selon berkata “Jendral jendral itu adalah pendukung Islam. Boleh boleh saja mereka mendukung Islam. Semua orang Islam pasti mendukung FPI”

Saya memotong dan berkata “Tidak semua lho Bib. Saya aja tidak mendukung FPI..”
Habib Selon menjawab “Mereka yang ga setuju FPI, bukan org Islam!”

I got that on air. On tape.

Kepala DPD FPI Jakarta berkata “Tidak mendukung FPI berarti bukan orang Islam”

Habib baru saja mencoreng wajah FPI dgn ucapannya sendiri

Apalagi, tidak lama setelah itu Habib Selon berkata

“Lihat tuh Gus Dur si Buta Dari Goa Hantu. Pengen bubarin FPI malah dirinya sendiri yang bubar!”

Saya kaget.


Terhenyak.

Orang yang menurut Mamot (mantan anggota FPI yang juga saya wawancara) setiap rabu kalau pengajian selalu lucu dan jenaka, baru saja menghina mantan Presiden Republik Indonesia
Yang tidak bisa melihat dgn matanya, tapi hatinya melihat lebih dalam daripada sekedar kulit di permukaan

Bagaimana bisa, orang orang seperti ini kita biarkan?

Pertanyaan lebih besar lagi, siapa yang membiarkan mereka mereka ini?

Para Jendral yang pada awalnya mendirikan mereka, kini sudah tidak bisa menguasai FPI lagi

FPI seperti anak macan piaraan Jendral yang kini sudah jadi besar dan tidak bisa diatur lagi

Sumber: http://pandji.com/fpi/


Wawancara dan buah pikiran yang ditulis dengan bagus dan apik sekali, sayang sepertinya Pandji telah melupakan artikel di atas. Ketika Anies mendatangi markas FPI di Petamburan dan menggadaikan integritasnya sebagai tokoh nasionalis. Keesokan harinya, di website yang sama, tertanggal 2 Januari 2017, Pandji menuliskan ‘pembelaan’ terhadap Anies, berikut kutipan-nya :


Yang Mas Anies lakukan, bertemu dengan Habib Rizieq dan FPI sejalan dengan niat beliau untuk jadi jembatan.

Sumber: http://pandji.com/pemersatu/

Pertanyaan saya terhadap Pandji khususnya, dan kepada pembaca semua:

Bagaimana mungkin Pandji demikian yakin seorang Anies Baswedan dapat menjadi ‘jembatan’ FPI dan masyarakat, jika sejarah sudah membuktikan, bahkan para Jendral besar dan seorang Presiden RI yang juga merupakan Ketua NU, Kyai yang sangat disegani umatnya, Gus Dur, telah GAGAL mengatur FPI?

Maafkan saya, jika tidak bisa percaya, mantan Menteri yang direshuffle Jokowi, seorang Cagub yang bahkan tidak bisa konsisten dengan perkataan dan programnya sendiri, mendadak bisa menjadi ‘jembatan’ FPI. Hadeehh Pandji… Kamu ini benar serius atau sedang stand up comedy satire?

Pada tulisan terbaru Pandji masih di website yang sama berjudul ‘strategi’ tertanggal 12 Maret 2017, Pandji menyayangkan sikap para pendukung Ahok yang ‘sibuk’ menjelek-jelekkan Anies dan membahas kedekatannya dengan dinasti Cendana dan FPI, tapi tidak mau adu program. Masalahnya, wahai Pandji, untuk apa membahas program contekan ‘plus plus’ dari Anies, yang walaupun menggiurkan, tapi dicanangkan oleh paslon yang pagi ndele sore tempe. Yang integritasnya yang sudah digadaikan kepada siapa saja yang mau membeli (FPI, dinasti Cendana, dll). Lalu Kamu mau Kita percaya begitu saja? Janji kampanye sih banyak dimana-mana, tapi yang terjadi biasanya setelah terpilih ya lupa!

Karena itulah saya menuliskan artikel ini.. #edisimelawanlupa

Do not forget history…


Teruntuk Pandji, ada salam dari ‘Si Buta Dari Goa Hantu’, orang bijak yang dulu begitu Kau kagumi, nih videonya :




sumber : seword.com